RSS
Tampilkan postingan dengan label Perjuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjuangan. Tampilkan semua postingan

2013 #1

            Setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari “Kampus Tunas” hidupku bagai terjatuh ke lubang hitam. Sendiri. Hampa. Takut. Marah. Air mata terus mengalir tanpa henti. “Dukungan” adalah satu hal yang sangat aku butuhkan, tapi saat itu aku sadar bahwa ketika kita jatuh semua orang akan menjauh dengan sendirinya. Jika sudah begitu maka siapa yang paling peduli? Hanya ada dua, yaitu Allah swt dan diriku sendiri…
            Tahun 2013 mungkin menjadi tahun terburuk bagi diriku, tapi pada tahun itulah aku banyak belajar untuk menjadi lebih dewasa dan bijaksana dalam menentukan pilihan. Cerita tentang perjuangan dan pengorbananku ini, aku persembahkan untuk kalian para “GENERASI MUDA INDONESIA"
Berjuang dan berkorbanlah untuk mimpimu, sesulit apapun itu!
Karena masa depan ada ditanganmu
Karena akan selalu ada jalan jika kita mau untuk memperjuangkannya
“NIAT – USAHA – SENYUM – SEMANGAT – DISIPLIN - BERDOA – TAWAKAL” 
***
            Aku kembali menginjakkan kaki di Kota kelahiranku pada tanggal 23 Februari 2013. Dua minggu setelah hari itu, aku hanya berdiam diri memikirkan apa yang harus aku lakukan. Kembali atau berjuang? tersesat atau mencari jalan? pasrah atau berkorban? Lama, sampai hatiku memutuskan untuk kembali berjuang, mencari jalan meski harus berkorban. Aku percaya bahwa selama masih ada kesempatan, proses sesulit apapun itu asalkan dilakukan dengan segenap hati dan semaksimal yang kita bisa, pasti akan membuahkan hikmah, apapun hasilnya bukanlah sebuah tujuan akhir.
Hal pertama yang aku lakukan adalah pergi ke Gramedia yang berada di Grage Mall, Cirebon. Aku membeli satu buku SBMPTN IPC untuk kembali berjuang merebut satu kursi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang ada di Indonesia. Semangatku saat itu sangat besar. Setiap hari waktuku habis untuk mempelajari materi dan soal latihan dibuku tersebut. Aku membuka kembali semua catatan dibuku-buku SMAku. Aku mencoba mempelajari materi IPS secara perlahan. Meski terlihat sangat sulit, aku mencoba membuat beberapa metode dan cara menghafal yang akurat, aku menulis catatan kecil dengan berbagai warna agar aku mudah mengingat, bahkan aku sampai mencoba sistem penghafalan cinta.
Sistem Penghafalan Cinta - Matematika
Selain belajar aku juga menghabiskan waktu untuk bersosial media dan mencari informasi apapun mengenai ujian masuk PTN. Bersosial media memang satu-satunya pelepas jenuhku saat itu. Tapi ternyata, apa yang aku lakukan dengan update-an di sosial media tersebut justru memberikan dampak yang cukup menyebalkan. Sosial media sebagai ajang yang tepat untuk berkomentar bagi siapapun itu benar-benar sukses memberikan banyak hinaan untukku. Meskipun begitu, hal yang aku syukuri adalah ternyata aku bisa tahu siapa temanku yang sebenarnya dari komentar-komentar yang ada di sosial media tersebut.
“Kamu keluar? Kenapa? Harusnya kamu bersyukur”
“Kalau kamu keluar PTN kamu nggak akan masuk PTN lagi, mau ke swasta?”
“Ya ampun, aku tau kamu pinter tapi kan nggak usah gengsi juga dapet D3”
“Masih pengen ambil kependidikan? Gaji guru kan kecil, gedean gaji Ahli Gizi kali, Tan”
“Kasian orang tua kamu, Tan. Biaya kuliah kan mahal”
“Ya tinggal sabar aja jeh, dijalanin yang semangat.”
“Masih untung kemarin kamu masuk PTN nggak tes. Ira tau nggak, kita aja udah harus belajar untuk ujian eh masuknya ke swasta jeh bukan negeri”
“Susah go masuk PTN kuh! Ira tuh pikirannya kemana?”
“Dih ari Intan kuh yo ana-ana bae pegaweane”
“……” blablabla… dan lain-lain… dan sebagainya…
Respon untuk semua komentar dariku
            Tentu saja komentar-komentar itu membuat aku semakin tertekan. Aku mulai kehilangan rasa percaya diriku, terlebih dengan mata pelajaran Fisika dan Biologi yang masih saja membuat aku merasa bodoh :’( "Jika sudah mendapat tekanan seperti itu, maka kemana kamu akan pergi?" Aku pergi ke pacar saat itu, tapi apa yang aku dapat? Dia sibuk dengan kuliah dan organisasi BEMnya. Aku pergi ke sahabat setelah itu, apa yang aku dapat? Mereka peduli tapi hanya sesaat. Aku marah! Aku kecewa! Mulai saat itu aku mulai menutup diriku untuk orang lain. Emosi dan ambisiku entah kenapa membuatku memilih untuk menjauhi mereka.
            Sikapku mulai aneh. Aku mulai menonaktifkan semua akun sosial mediaku. Aku bahkan sampai mengganti nomor hpku. Aku membuka internet hanya untuk mencari dan mencatat semua ujian PTN tanpa menyentuh sosial media apapun. Aku menjadikan malam seperti siang dan menjadikan siang seperti malam. Saat itu, bagiku udara malam Kota Cirebon terbilang sejuk, suasananyapun tenang sehingga aku bisa lebih fokus untuk belajar. Sedangkan ketika siang aku menghabiskan waktu untuk tidur, menghindar dari keramaian seolah aku telah mati tanpa kabar.
Update-an terakhir sebelum menonaktifkan akun
            Bulan silih berganti, semua soal yang ada dibuku SBMPTN IPC sudah berhasil aku kerjakan seluruhnya sesuai target. Ambisiku semakin menjadi-jadi. Ketika pembukaan pendaftaran peserta SBMPTN 2013, aku memilih PTN bergengsi dengan jurusan bergengsi tanpa pikir panjang. Ambisi dan emosi membuatku selalu berfikir untuk bisa membuktikan bahwa aku bisa merebut satu kursi PTN lagi dengan lebih baik.
Belajar terakhir sebelum SBMPTN 2013
Kartu ujian SBMPTN 2013
16 Juni 2013
            Jam 22:30 WIB aku bersama Ibu, Om Ruton, Dilla dan Ibnu menuju stasiun Parujakan untuk pergi ke Yogyakarta. Kami pergi menggunakan kereta Progo dan sampai di stasiun Lempuyangan pukul 06:30 WIB.
Ibu, Om Ruton, Dilla dan Ibnu
17 Juni 2013
            Aku dan Ibu menginap dirumah Bulik (istri Om Ruton) di Sleman, Yogyakarta. Sorenya, sekitar jam 16:30 WIB aku ingin melihat ruang ujian SBMPTNku di UIN Sunan Kalijaga. Saat itu Ibu juga ingin melihat ruanganku, akhirnya diputuskan aku dan Ibnu terlebih dahulu yang diantar Om Ruton naik motor ke UIN, setelah itu barulah Om Ruton akan menjemput Ibu dan Dilla. Saat tiba di UIN itulah aku melihat ada demo mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga dalam aksi penolakan naiknya harga BBM. Aku membawa Ibnu yang masih kecil untuk menjauh, tapi saat itulah tepat satu meter dari posisi kami berjalan seorang pengendara motor tiba-tiba dihajar massa. Ketakutanku memuncak, semua orang kalang kabut. Polisi sibuk mengamankan dan menenangkan massa. Aku menjauh dengan susah payah untuk menarik Ibnu keluar. Percayalah kondisinya sangat buruk bagiku saat itu :(
UIN Sunan Kalijaga
18 Juni 2013
            Hari pertama SBMPTN 2013. Aku diantar Om Ruton naik motor ke UIN Sunan Kalijaga. No ujianku saat itu 313-46-00562 berada di lantai 4 Fakultas Adab dan Ilmu Budaya ruang R.403FA di jalan Marsda Adisucipto. Aku duduk paling depan, kursi ke dua dari kanan. Ujian pertama adalah Tes Potensi Akademik (TPA), kemudian akan dilanjut ujian Tes Kemampuan Dasar Umum (TKDU) setelah istirahat. Aku berkenalan dengan Iin ketika istirahat, dia asli Yogyakarta. Anaknya cantik dan sedikit pemalu.
19 Juni 2013
            Hari kedua saatnya ujian inti yaitu SAINTEK (IPA) dan SHOSUM (IPS). Karena aku mengambil IPC maka aku harus mengikuti ujian keduanya. Aku cukup puas dalam ujian SHOSUM dan tidak cukup percaya diri dalam ujian SAINTEK untuk Fisika dan Biologi. Pulangnya aku diantar Om Ruton ke Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) untuk mengetahui lokasi Ujian Keterampilan. Ternyata untuk Seni Tari ada 3 tahap ujian yaitu keterampilan, bentuk dan wawancara. No ujian keterampilanku saat itu 462331 mendapat urutan ke 82.
20 Juni 2013
            Jam 06:30 WIB aku sudah ada ditempat Ujian Keterampilan yang berada di UNY. Aku berkenalan dengan Sekar asal Magelang dan Winda asal Palembang. So, here I am…
1.    Ujian Kreatifitas Tari (sekali masuk 3 orang)
a.    Ujian mimik muka 
Senyum tanpa gigi selama 1 menit.
b.    Ujian dasar tari 
Awalnya cuma ngikutin ketukan untuk gerakan dasar keluwesan tangan. Setelah itu ada kakak  tingkat yang nari dengan ketukan 2x8 yang harus diikutin sama persis setelahnya. Tau apa susahnya? Itu tarian khas Jawa yang lemah gemulai over dosis sampai mungkin bisa bikin tulang mendadak lentur kayak permen karet (>.<)
c.    Ujian tanggap musik
Ada beberapa musik yang sengaja diMIX, tugas kita sebagai peserta ujian cuma harus nari sesuai musik yang mengalun tanpa banyak pikir panjang. Itu ya Allah kurang ajar banget (-_-) Perubahan tempo yang dimainkan benar-benar keterlaluan.
2.    Ujian Bentuk Tari
Aku membawakan sebuah Tari Kreasi yaitu Tari Anjun untuk ditampilkan didepan depan juri saat itu.
3.    Wawancara
     Hanya beberapa pertanyaan dasar mengapa mengambil Seni Tari.
21 Juni 2013
            Karena semua ujian SBMPTN telah usai, aku memutuskan untuk ikut Om Ruton ke tempat kerjanya yang ada di Bantul. Pulangnya aku minta untuk mampir terlebih dahulu ke Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Ternyata ISI itu keren banget meskipun tempatnya agak jauh dari Sleman. Ah, aku selalu suka seni, terlebih Seni Tari. Bagiku, anak seni itu meski gayanya ambrul adul, tetep aja keren. Dimataku anak seni itu romantis, fantasis, dan inovatif :*
22 Juni 2013
            Bulik membawakan makanan tradisional dari pasar. Ada nasi jagung yang rasanya sedikit aneh, ada lupis yang kenyal dengan sentuhan kelapa dan gula merah, ada tiwul yang dibuat dari singkong yang dihaluskan dengan sentuhan kelapa dan gula merah juga. Sekitar jam 14:30 WIB aku dan Ibu pergi ke stasiun Lempuyangan untuk pulang ke Cirebon. Naik kereta Progo lagi dengan jam keberangkatan 15:30 WIB dan sampai di stasiun Parujakan tepat pada pukul 21:00 WIB.
8 Juli 2013
            Pengumuman SBMPTN 2013 tepat pada pukul 17:00 WIB. Hasilnya? Alhamdulillah yaa.. Ternyata aku GAGAL masuk PTN dijalur SBMPTN 2013. Rasanya? Kacau, antara kesel, pengen marah, takut, iri, pengen teriak, pengen nangis, pokoke campur aduk!! Kalau bisa diumpamakan kondisiku saat itu “lebih baik mati” aja :’( 

Bersambung............ 

Perjuangan Masuk SMA

Aku memang suka menulis buku harian sejak SD, tepatnya mengapa, kapan, bagaimana hal itu bisa terjadi, entah mengapa begitu abstrak diingatanku.
Semalam, aku sangat tertarik pada tulisanku 5 tahun lalu...

PERJUANGANKU KETIKA AKU INGIN MASUK KE SMA KOTA.

Saat itu, bagi anak yang SMPnya berada di Kabupaten, mungkin menjadi hal yang cukup sulit untuk memasuki SMA yang berada di Kota.
Alasannya :
- Banyak anak Kota yang memang lebih cerdas karena banyak faktor pendukung.
- Otoritas yang mengutamakan anak Kota sehingga ada aturan SMA Kota untuk 60 % dari SMP di Kota dan 40 % dari SMP di Kabupaten.
- Kepercayaan masyarakat bahwa anak Kabupaten tidak akan mampu ke Kota.

Ini adalah tulisanku dibuku harian tanpa mengubah apapun :

12 Juni 2009
      Lama kita berjalan, mencoba untuk mencapai sebuah IMPIAN. Ketika IMPIAN itu sudah didepan mata, hanya butuh satu langkah lagi, seseorang menghentikan langkah kita. Kita belum mencobanya sama sekali, namun langkah itupun mesti terhenti. Kecewa, bagai terjatuh ditengah kumpulan arang. Menyimpan luka yang sangat mendalam. Akankah kita bisa menyembuhkannya? Luka yang sangat mendalam dengan noda hitam arang pada diri kita. Bisakah kita mencapai impian itu lagi? Setelah luka itu cukup mengering dan noda itu cukup hilang. Apakah orang akan ingat dengan keadaan kita sebelumnya? Yang ku tahu, aku sangat kecewa, aku menangis disini...
    Ketika kita mencoba mengepakan sayap kita, mencoba terbang ke langit luas nan indah. Mencoba membuat sayap kita kuat sehingga mampu menembus awan. Namun, belum juga kita sempat terbang jauh. Sebuah pistol menembak sayap kita. Menghentikan perjalanan kita. Apa yang kita rasa? Hanya rasa kecewa, sedih. Sayap itu mungkin akan lama sembuh, seperti luka batin yang sulit disembuhkan. Yang ku tahu, sayap itu tak bisa kembali utuh. Butuh waktu lama tuk kembali terbang...

14 Juni 2009
      Berhari-hari disinilah aku berdiam diri, di tempat yang gelap, sunyi dan hanya ada kumpulan arang. Sendiri!!! Tak pernah lagi aku temui cahaya, tawa dan keributan orang. Hanya tangisku, rasa kecewaku, dan kumpulan arang hitam pekat ini. Tubuhku kini menjadi sangat kotor, begitupun mulutku yang selalu memakan pahitnya arang ini. Namun aku percaya, akan ada sebuah KEAJAIBAN suatu saat nanti. Aku pasti menemukan setitik cahaya dan aku akan menemukan sebuah KEHIDUPAN disana. Aku berjalan, terus berjalan tiada henti. Doa dan harapan selalu keluar dari mulutku. Lelah, putus asa, kegelapan, tak pernah aku hiraukan. Karena ku tahu itu semua bukan hal yang mustahil..
     Sampai akhirnya, aku menemukan setitik cahaya, bagai kilauan beribu-ribu intan berlian, permata ditengah kegelapan. Aku tak percaya!!! Apakah aku bermimpi? Tapi ini NYATA, aku MENEMUKANYA. Setitik senyumku membuatku semakin tak percaya. Subhanallah... Inikah IZINMU? Terimakasih Ya Allah kau telah membuka sedikit harapanku, terimakasih atas kesempatan yang Engkau berikan ini. Sedikit perjalanan lagi, yang mungkin akan sulit aku hadapi telah menantiku disana, aku akan berusaha, dan menemukan CAHAYA ABADI... Ya Allah engkau Maha Mengetahui, Maha Penyanyang dan Maha Kuasa. Hanya padamu aku menyerahkan semua jiwa dan ragaku.

10 Juli 2009
      KEGAGALAN, mungkin satu kata yang tak asing untuk kita. Setiap manusia pasti pernah GAGAL. GAGAL kadang membawa kita pada hal buruk, mungkin juga bisa mengakhiri semuanya. Banyak orang putus asa, tidak mau makan atau minum, bunuh diri, kecewa, sedih, trauma, malu dll hanya karena dirinya GAGAL. Namun jika kita memikirkan hal itu dengan akal fikiran kita, KEGAGALAN bisa dijadikan sebagai KEKUATAN
      Mungkin banyak orang menghina, menjauhi atau menganggap rendah kita sewaktu GAGAL. Jika kita mau merubahnya, maka ketahuilah KEGAGALAN itu menjadi sebuah KEKUATAN bagi kita. Anggaplah hal itu sebagai COBAAN, karena sesungguhnya KEGAGALAN adalah sebuah JEMBATAN untuk kita. Jujur saja, saya juga pernah mengalami hal itu, GAGAL dalam mencapai prestasi dan IMPIAN saya. Saya memang sempat putus asa, tidak mau makan dan menangis seharian, tapi saya sadar, semua itu tidak ada gunanya!!! Dalam hati saya bertekad untuk BANGKIT dan bisa menerima kenyataan. Hari demi hari saya terus berusaha, tidak peduli orang lain bilang apa... 
mereka bilang... 
"Intan rajin banget sih, gaya aja tuh!"
"Ih, sok iye banget, paling juga nggak bisa masuk Kota."
"Udah coba nggak usah MIMPI, terima aja KENYATAAN. Kabupaten gen bagus jeh!"
     Semua kata-kata itu memang MENYAKITKAN!!! Bukankah semua hal bisa kita rubah? Dari semua HINAAN dan KESOMBONGAN para manusia itulah aku mendapat sebuah KEKUATAN. Mungkin butuh usaha yang keras, terkadang sayapun masih MENANGIS tiap malam. Sampai akhirnya kini saya bisa mendapat prestasi yang jauh lebih membanggakan dari sebelumnya dan kini IMPIAN itu sudah saya dapatkan. Hanya satu kata TERIMA KASIH YA ALLAH ...
TERIMA KASIH IBU, IBU, IBU, IBU ...
TERIMA KASIH AYAH...
TERIMA KASIH Kakak...
Terima kasih atas segala dukungan dan do'a kalian. Intan sayang Ibu, Ayah dan Kakak...
Untuk semuanya percayalah...."KEGAGALAN itu JEMBATAN KESUKSESAN kita"
Semakin banyak kita GAGAL maka semakin panjang JEMBATAN itu, hingga kau dapat melihat JEMBATAN itu mengantarmu jauuuuuuhhhhh ke atas sana.


            Well, itu adalah tulisan ketika aku kelas 9 SMP, hahaha... lucu juga ya liat ambisi diri sendiri. Sedikit cerita, waktu itu memang aku sangat ingin masuk ke SMA Negeri 2 Cirebon, salah satu SMA terbaik di Cirebon. Nah, untuk masuk kesana seperti yang diungkapkan dibuku harianku ketika itu, sulitnya bukan main. Banyak hinaan, terlebih ketika aku gagal masuk ke SMANDA dijalur Pencarian Bibit Ungguln (PBU). Faktanya ketika itu, soal yang diujikan memang sulit dan menggunakan Bahasa Inggris. Soal tersebut dibuat khusus oleh pihak SMANDA sebagai sekolah yang akan bergelar Sekolah Berstandart Internasional (SBI) ketika itu. Wawancarapun dilakukan dalam Bahasa Inggris. Sudah pasti tertebak, aku GAGAL masuk SMANDA saat itu...
       Setelah itu, aku selalu menangis. Teman-temanku semuanya sudah masuk SMA terbaik di Kabupaten. Sedangkan aku? Aku masih saja ingin masuk SMANDA, kali itu aku ingin masuk dijalur SKHUN. Jalur kedua yang dibuka SMANDA. Bedanya, jalur SKHUN menggunakan nilai UN SMP sebagai tambahan nilai ujian yang soalnya diambil dari soal-soal UN, yang terpenting bagiku adalah soal ujian jalur SKHUN menggunakan Bahasa Indonesia. Wawancara menggunakan Bahasa Inggris tetap saja ada, dan kali ini aku lebih percaya diri dalam menjawab. Masih aku ingat dengan baik, ketika aku GAGAL dalam jarur PBU itu aku jadi sering ke Mushala SMP. Ngapain? Ya nangislah, berdo'a :p Ketika itu Ibu Siti - guru Matematika favoritku yang suka nyuruh aku maju ke depan kelas - duduk tepat didepanku. Tidak akan aku lupakan kata-kata Ibu Siti ketika itu "Maju! Pura-pura tuli, anggep aja omongan temen itu nggak ada. Ibu percaya Intan bisa.". Setelah itu, aku semakin gila untuk belajar. Apa yang terjadi? Yaps... aku termasuk salah satu dari 160 anak yang BERHASIL masuk SMANDA, waktu itu aku urutan ke 111. Cukup bodoh memang, hahaha... mengingat urutan tersebut dilihat dari nilai ujian SKHUN terbesar ke nilai terendah.... yiha! aku bisa melewati gerbang itu :) Hay, SMANDA... aku datang!!!

SMAN 2 Cirebon (SMANDA)

Salam : Lenny