Meskipun pahit tapi tetap saja ada rasa manisnya
Meskipun pahit tapi tetap membuat ketagihan
Nikmatilah
setiap detik perjuanganmu. Memang terasa berat dan sulit, itu jika kamu selalu
membatasi pikiranmu akan kekuatan dirimu sendiri. Percayalah bahwa setiap
manusia terlahir dengan kekuatan yang besar dalam dirinya masing-masing. Mulailah dengan mempercayai
kemampuan dirimu sendiri. Jika hal itu kamu lakukan dengan baik, maka kemampuan itu akan menjadi kekuatan untuk menumbuhkan tunas dari setiap
tetes keringatmu. Kelak kamu akan tau seperti apa buah hasil keringatmu. Semua sebanding
dan sejajar apa yang kamu pikirkan, apa yang kamu percaya dan apa yang kamu
lakukan dengan dirimu sendiri...
***
Setelah
pengumuman SBMPTN yang menyedihkan itu, aku semakin depresi berat. Segala
pertanyaan muncul dikepalaku tanpa bisa aku singkirkan. Apa yang salah? Apa
yang kurang? Mengapa aku gagal? Mengapa hasilnya diluar prediksiku? Sampai pada
titik ketika aku mulai menyadari satu hal, aku salah dalam menentukan pilihan
karena ambisi dan emosiku. Aku seharusnya bisa lebih bijaksana dalam menentukan
pilihan. Aku juga terlampau mengejar hasil tanpa mau melihat dan mempertimbangkan sudah sebaik apa proses yang
aku lakukan.
Aku
mulai bangkit kembali, kali ini aku juga mencari Perguruan Tinggi Swasta (PTS)
terbaik. Peduli setan dengan gengsi!! Aku mulai mencari ujian PTN dan PTS dalam
waktu dekat. Aku menuliskan semua tanggal ujian PTN dan PTS dikertas yang kemudian aku
tempel di meja belajarku. Aku mulai memikirkan mana yang terbaik yang harus aku
pilih, mana yang bisa aku masuki dengan mudah dan mana yang sekiranya membuat
mimpiku menjadi nyata sesuai dengan kemampuanku.
Gagal
SBMPTN membuatku semakin giat belajar, semalaman aku mengerjakan soal dengan
target sehari satu kumpulan soal untuk satu mata pelajaran. Saat itulah,
semakin sering aku mecoba menjawab soal, aku mulai memahami bahwa sebenarnya aku
lebih unggul dalam bidang IPS bukan dalam bidang IPA. Dibidang IPS yang terdiri dari mata pelajaran
Sejarah, Ekonomi, Geografi dan Sosiologi aku hanya lemah dalam mata pelajaran
Geografi saja. Sedangkan dibidang IPA yang terdiri dari mata pelajaran
Matematika, Kimia, Fisika dan Biologi aku sangat lemah dalam mata pelajaran
Fisika dan Biologi (meskipun IPA adalah jurusanku ketika SMA).
Masih
aku ingat pada suatu malam, aku sangat kesal karena hanya dapat mengerjakan 4
soal Fisika dengan benar. Aku putus asa, bagaimana aku bisa masuk Pendidikan Matematika
jika aku lemah dalam Fisika? Biologipun seolah ikut campur untuk berusaha
menjatuhkanku saat itu. Aku sedang menangis saat Ayah masuk secara tiba-tiba ke kamarku. Ayah berkata “Nok, udah belajarnya. Tidur udah jam 2 pagi. Udah simpen dulu
bukunya. Nggak usah banyak pikiran, mau masuk universitas mana aja boleh. Dedek mau keluar
kota masuk swasta juga nggak apa-apa asal dedeknya suka”
Dukungan Ayah saat itulah yang
membuatku semakin semangat. Apa peduliku untuk masuk swasta atau negeri? Semua
pasti sama. Asalkan aku bisa berjuang untuk mengubah keadaan sesuai yang aku
inginkan semampuku. Satu kesempatan yang harus aku ambil dengan lebih baik,
karena masa depanku ada ditanganku sendiri dan hasilnya biarlah Allah swt yang
mengatur. Kali ini aku harus melalui proses dengan sebaik mungkin.
Setiap hari aku belajar dari jam 10 malam sampai jam 5 pagi. Aku membuat rangkuman
materi IPS lebih berwarna lagi, membuat catatan rumus materi IPA dengan
disertai gambar. Aku menghafal sepanjang malam. Aku berdoa dalam setiap
sujudku. Aku mulai menulis setiap targetku, membuat coretan penyemangat bahkan
di meja belajarku tertulis dengan tip-x “Intan masuk PTN”. Ketika aku mulai lelah, aku
akan memutar lagu untuk memacu semangatku. Saat itu aku sangat suka mendengarkan
lagu “Sang Juara” dan “Bumi ke Langit” milik Bondan Prakoso dan F2B. Menutup buku,
tidur dengan posisi rileks, pasang headset, puter lagu, tutup mata dan fokus
untuk mendengar setiap lirik yang mengalun selalu berhasil membuatku kembali semangat dan optimis.
| Coretan penyemangat |
Semuanya berjalan sama, aku masih
giat belajar dari jam 10 malam sampai jam 5 pagi, aku masih mencari informasi
PTN dan PTS, aku masih sibuk dengan targetku. Sampai pada suatu hari ketika aku
sedang tidur (mungkin sekitar jam 8 pagi) Kakak membangunkanku dengan kata-kata
yang menyakitkan “Dek, tidur aja! Gimana kamu mau masuk PTN! Udah mending kamu kuliah
di Cirebon aja, atau nikah aja sekalian! Dari pada selalu bikin susah!” Ah, damn! damn! Betapa kacau perasaanku
saat itu.
Jiwaku
mulai terusik ketika harus menghadapi
gossip para tetangga meskipun aku selalu mengurung diri di rumah. Ditambah
pengakuan Ayah dan Ibu mengenai kondisiku yang sebenarnya. Mau bagaimana lagi?
Setiap ada tamu, bukankah para orang tua selalu membanggakan anaknya? Aku sedih
setiap mendengar pengakuan Ayah dan Ibu yang meskipun selalu jujur dalam
mengakui kondisiku apa adanya pada mereka, tapi tetap selalu ada kebencian
tersendiri dalam diriku. Aku, iya aku yang dulu selalu dibanggakan kini
bernasib mengenaskan.
Aku semakin sering menangis ketika
Ibu selalu marah padaku. Terutama ketika aku bertanya mengenai universitas. Ibu
jelas mendukungku, Ibu membebaskan aku untuk memilih universitas manapun,
dimanapun itu. Ibu berjanji akan menyediakan dana sebesar apapun itu. Tapi bukan dukungan
seperti itu yang aku mau. Aku sangat butuh pemikiran Ibu untuk membantuku dalam
memilih universitas mana yang sebaiknya aku pilih. Bukankah aku juga perlu pemikiran Ibu untuk melihat mana yang lebih baik? Bukan hanya menyerahkan semuanya
kepadaku dan siap atas apa yang akan aku dapatkan nanti :’(
Ceritanya sangat panjang dan rumit
sampai pada keputusan Ibu yang menyarankan agar aku mencoba Ujian Mandiri di
Universitas Pendidikan Indonesia (UM-UPI) dengan pertimbangan lokasinya yang
berada di Bandung cukup dekat dan mudah diakses dengan transportasi umum (bis,
kereta dan travel) dari Cirebon. Akhirnya, tanggal 9 Juli 2014 aku mendaftarkan
diri sebagai peserta UM-UPI dengan pilihan Pendidikan Akuntansi dan Pendidikan
Sejarah via online dan mendapat no bayar 02736. Iya, kali ini aku memang memutuskan untuk membanting setir mengambil IPS, meskipun sedikit berat karena aku harus
melupakan mimpiku untuk masuk Pendidikan Matematika, harus melupakan mauku untuk kuliah di Yogyakarta dan harus aku akui bahwa
aku sedikit takut karena mengambil bidang yang bukan bidangku. Dibandingkan dengan anak
SMA dengan jurusan IPS, berapakah pengetahuan IPS yang baru aku pelajari selama
kurang lebih 3 bulan?
Tanggal
10 Juli 2014 jam 10 pagi aku pergi ke bank BNI bersama Ayah untuk membayar
biaya UM-UPI, ketika itu aku harus membayar Rp 300.000,00 dan mendapat pin
TUE5XD untuk mendaftar via online kembali. Sekitar jam 2 siang aku dan Ayah
pergi ke warnet Om Kasim untuk melakukan pendaftaran. Apa yang terjadi saat itu?
Aku bertemu dengan sahabat Ayah disana, namanya Pak Kadmi, anaknya adalah
temanku ketika SMP. Beliau berkata “Jadi, mengundurkan diri tah Nok? Yaudah
kalau itu yang terbaik. Bapak sih percaya anaknya Ayah pinter, pasti bisa
masuk UPI. Banyak berdoa aja”. Apa yang aku rasakan? Sejujurnya aku takut saat
itu, bagaimana mungkin orang lain lebih optimis dibandingkan aku sendiri?
18 Juli 2013
Jam 02:30 dini hari aku, Ibu dan Wawak
Hato tiba di terminal Cicaheum, Bandung. Kami berangkat dari Cirebon naik bus
Good Will pada pukul 22:30 WIB. Karena saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, kami memutuskan untuk sahur terlebih dahulu
disalah satu warteg yang berada di terminal, ini pertama kalinya aku sahur di
Bandung. Setelah itu, kami harus menunggu angkot cicaheum-lendeng penuh penumpang (sekitar
2,5 jam) untuk pergi ke Universitas Islam Bandung (UNISBA). Iya, aku memutuskan
untuk ikut ujian di UNISBA sebagai cadangan seandainya aku gagal masuk
UPI. Aku mendengar bahwa Ilmu Komunikasi UNISBA terbilang sangat bagus dan
merupakan jurusan terbaik di UNISBA sendiri. Diluar keinginanku untuk menjadi
seorang pendidik, aku juga sangat ingin menjadi jurnalis atau presenter.
Sampai di Taman Sari, kami memutuskan
untuk mencari kost untuk 4 hari. Aku cukup bersyukur dapat menemukan kost yang
sangat dekat dengan UNISBA dengan cepat. Sebuah kost kusus untuk pria sebenarnya yang
terdiri dari 4 lantai dengan desain yang kurang bagus. Tangganya
saja sangat kecil dan terlalu jauh dari kata sempurna, bahkan sinyal hp sulit
aku dapatkan disana. Di kost tersebut aku dan Ibu menyewa sebuah kamar kecil yang berada dilantai dua, sudah tersedia tempat tidur, bantal dan selimut
dengan harga Rp 150.000,00 untuk 4 hari.
Sekitar jam 8 pagi setelah mandi dan
sebagainya, aku, Ibu dan Wawak Hato berjalan menuju Direktorat UNISBA untuk mendaftarkan
aku sebagai perserta ujian. Aku mengambil 3 pilihan yaitu Komunikasi, Akuntansi
dan Manajemen (lagi-lagi aku memberanikan diri mengambil bidang IPS).
Formulirnya seharga Rp 250.000,00 dan biaya psikotes Rp 150.000,00. Setelah
mendaftarkan diri, kami langsung mencari tempat ujian. Ujian psikotes berada
dilantai 3 sedangkan ujian umum dilantai 4. Kondisi ruangannya sendiri cukup
baik meskipun gedung UNISBA terlihat tua jika dilihat dari luar.
Pengalaman yang lucu disana adalah
ketika kami akan kembali ke kost yang telah kami sewa. Aku, Ibu maupun Wawak Hato bingung mencari
jalan dan letak kost yang telah kami sewa tersebut. Kami berjalan dan berkeliling
tanpa tahu arah. Konyol (>.<) kami sama sekali tidak tahu nama kostannya, bagaimana cara kami menemukannya? Hal itu membuat kami membutuhkan waktu selama 30 menit untuk menemukannya,
hahaha :D Sekitar pukul 10 pagi Wawak Hato izin untuk pulang sendirian ke Cirebon karena
tugasnya hanya mengantar sampai UNISBA saja. Sorenya, aku dan Ibu ngabuburit
sampai ke Balubur Toserba (Baltos) yang letaknya persis didepan Direktorat
Institut Teknologi Bandung (ITB). Aku baru tahu ternyata sangat banyak makanan yang
enak ditawarkan dengan harga rata-rata Rp 5.000,00 perporsinya. Aku membeli
batagor, tutut dan mie dingin. Luar biasa, makanan terasa sangat enak saat itu meskipun hatiku sedikit takut.
19 Juli 2013
Sahur pertama di kost sewaan dengan
hidangan nasi, mie dan bakso ikan. Aku menggunakan kesempatan ini untuk belajar
dan tidur siang mengingat perjalanan kemarim membuatku sedikit lelah. Sorenya,
aku dan Ibu kembali ngabuburit. Kali ini aku membeli risol, empek-empek dan
jasuke yang harganya sama semua Rp 5.000,00 hahaha :D Minumnya, aku pilih
mizone blewah untuk penambah energi :p
20 Juli 2013
Sahur kedua di kost sewaan dengan hidangan nasi,
hati-ampela goreng, bakso ikan dan balado telur. Jam 7 pagi aku pergi ke UNISBA
diantar Ibu untuk ujian pertama. Ujian psikotes ada di ruang 304B yang berada
dilantai 3, saat itu no ujianku sangat cantik yaitu 3131347. Aku hanya berharap
hasilnya juga akan secantik no ujianku. Psikotes berlangsung lama, dari jam 8
pagi sampai jam 12:30 siang. Semua soal dijawab olehku dengan baik kecuali soal
tentang balok yang diputar balik untuk menguji daya imajinasi gerak. Ibu
menungguku didepan gedung, aku cukup terkejut karena Ibu sudah bersama Ibu-ibu
lainnya. Salah satu dari mereka berkata bahwa anaknya gagal masuk ujian UNISBA
di gelombang 1 dan 2 untuk masuk Komunikasi, padahal anaknya mengambil IPS
ketika SMA. Lalu, bagaimana denganku yang ikut ujian gelombang 3 (gelombang
terakhir) dengan pilihan komunikasi juga?
21 Juli 2013
Sahur ketiga di kost, kali ini dengan lauk mie, bakso
ikan dan hati-ampela goreng. Ibu tetap mengantarku untuk ujian hari kedua. Aku
sempat bingung karena ternyata ruangannya dipindah. Ujian dimulai pukul 8
sampai pukul 12 siang. Setiap anak mendapat soal yang berbeda tergantung
jurusan yang dipilihnya. Aku mendapat soal yang berisi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, Bahasa Inggris
dan IPS. Aku cukup terkejut ketika teman sebelah kananku mendapat soal penuh
yang berisi soal mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, Bahasa Inggris, IPS, IPA dan Kedokteran karena dia mengambil IPC
dengan salah satu pilihan Kedokteran. Astaga! Terlalu ambisius.
Aku mengerjakan soal dengan tenang.
Semua soal dapat aku kerjakan dengan baik, umumnya soal IPS sudah aku pelajari
dari buku SBMPTN. Aku berhasil menyelesaikan semua
soal selama satu jam. Aku memutuskan untuk kembali mengoreksi sebanyak 2 kali sampai jam menunjukkan tepat pukul 9:30 pagi. Karena
merasa sangat puas, aku menyerahkan soal yang telah aku kerjakan ke meja
pengawas yang berada didepan. Saat itu pengawas berkata “Sudah selesai? Mau
diperiksa kembali atau tidak? Masih banyak waktu sampai jam 12 siang” dan saat
itu aku berkata dengan penuh percaya diri “Terimakasih, Pak. Insya Allah saya
sudah yakin akan jawaban saya 98 %. Assalamu'alaikum” Aku mencium tangan Dosen tersebut sebelum
meninggalkan ruang ujian, sekilas aku melihat Dosen itu mengambil soal yang
telah aku kerjakan dan memeriksanya langsung (sepertinya dikoreksi, benar atau tidaknya hanya Allah yang tau hehe).
Siangnya aku dan Ibu jalan-jalan
kearah yang berbeda. Ternyata Universitas Pasundan (UNPAS) ada didekat UNISBA. Kampusnya memang terlihat
lebih bagus dari UNISBA. Jam 1 siang aku dan Ibu pergi naik angkot biru untuk
turun didepan Baltos dan lanjut naik angkot jurusan ledeng menuju Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Uum
temanku ketika SMA yang kebetulan kuliah di UPI telah menungguku digerbang dua
UPI. Aku sengaja meminta tolong untuk menginap di kostan Uum yang berada di
Cilimus selama aku ujian di UPI. Setelah bertemu dengan Uum, Ibu pulang ke Cirebon sendiri. Kosan Uum
sendiri terbilang jauh saat itu, aku cukup bingung menghafal jalannya. Disana,
sudah ada Dewi (saudara Uum) yang juga peserta UM-UPI. Aku bersyukur karena aku
dan Dewi cepat akrab satu sama lain. Hari itu, aku buka puasa di Limamu, food court yang berada di Geger Kalong
(Gerlong) bersama Uum dan Dewi.
Bersambung....
Bersambung....

0 comment:
Posting Komentar