RSS

2013 #2

Berjuang itu seperti minum kopi…
Meskipun pahit tapi tetap saja ada rasa manisnya
Meskipun pahit tapi tetap membuat ketagihan
            Nikmatilah setiap detik perjuanganmu. Memang terasa berat dan sulit, itu jika kamu selalu membatasi pikiranmu akan kekuatan dirimu sendiri. Percayalah bahwa setiap manusia terlahir dengan kekuatan yang besar dalam dirinya masing-masing. Mulailah dengan mempercayai kemampuan dirimu sendiri. Jika hal itu kamu lakukan dengan baik, maka kemampuan itu akan menjadi kekuatan untuk menumbuhkan tunas dari setiap tetes keringatmu. Kelak kamu akan tau seperti apa buah hasil keringatmu. Semua sebanding dan sejajar apa yang kamu pikirkan, apa yang kamu percaya dan apa yang kamu lakukan dengan dirimu sendiri...
***
Setelah pengumuman SBMPTN yang menyedihkan itu, aku semakin depresi berat. Segala pertanyaan muncul dikepalaku tanpa bisa aku singkirkan. Apa yang salah? Apa yang kurang? Mengapa aku gagal? Mengapa hasilnya diluar prediksiku? Sampai pada titik ketika aku mulai menyadari satu hal, aku salah dalam menentukan pilihan karena ambisi dan emosiku. Aku seharusnya bisa lebih bijaksana dalam menentukan pilihan. Aku juga terlampau mengejar hasil tanpa mau melihat dan mempertimbangkan sudah sebaik apa proses yang aku lakukan.
Aku mulai bangkit kembali, kali ini aku juga mencari Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terbaik. Peduli setan dengan gengsi!! Aku mulai mencari ujian PTN dan PTS dalam waktu dekat. Aku menuliskan semua tanggal ujian PTN dan PTS dikertas yang kemudian aku tempel di meja belajarku. Aku mulai memikirkan mana yang terbaik yang harus aku pilih, mana yang bisa aku masuki dengan mudah dan mana yang sekiranya membuat mimpiku menjadi nyata sesuai dengan kemampuanku.
Gagal SBMPTN membuatku semakin giat belajar, semalaman aku mengerjakan soal dengan target sehari satu kumpulan soal untuk satu mata pelajaran. Saat itulah, semakin sering aku mecoba menjawab soal, aku mulai memahami bahwa sebenarnya aku lebih unggul dalam bidang IPS bukan dalam bidang IPA. Dibidang IPS yang terdiri dari mata pelajaran Sejarah, Ekonomi, Geografi dan Sosiologi aku hanya lemah dalam mata pelajaran Geografi saja. Sedangkan dibidang IPA yang terdiri dari mata pelajaran Matematika, Kimia, Fisika dan Biologi aku sangat lemah dalam mata pelajaran Fisika dan Biologi (meskipun IPA adalah jurusanku ketika SMA).
Masih aku ingat pada suatu malam, aku sangat kesal karena hanya dapat mengerjakan 4 soal Fisika dengan benar. Aku putus asa, bagaimana aku bisa masuk Pendidikan Matematika jika aku lemah dalam Fisika? Biologipun seolah ikut campur untuk berusaha menjatuhkanku saat itu. Aku sedang menangis saat Ayah masuk secara tiba-tiba ke kamarku. Ayah berkata “Nok, udah belajarnya. Tidur udah jam 2 pagi. Udah simpen dulu bukunya. Nggak usah banyak pikiran, mau masuk universitas mana aja boleh. Dedek mau keluar kota masuk swasta juga nggak apa-apa asal dedeknya suka”
            Dukungan Ayah saat itulah yang membuatku semakin semangat. Apa peduliku untuk masuk swasta atau negeri? Semua pasti sama. Asalkan aku bisa berjuang untuk mengubah keadaan sesuai yang aku inginkan semampuku. Satu kesempatan yang harus aku ambil dengan lebih baik, karena masa depanku ada ditanganku sendiri dan hasilnya biarlah Allah swt yang mengatur. Kali ini aku harus melalui proses dengan sebaik mungkin.
Setiap hari aku belajar dari jam 10 malam sampai jam 5 pagi. Aku membuat rangkuman materi IPS lebih berwarna lagi, membuat catatan rumus materi IPA dengan disertai gambar. Aku menghafal sepanjang malam. Aku berdoa dalam setiap sujudku. Aku mulai menulis setiap targetku, membuat coretan penyemangat bahkan di meja belajarku tertulis dengan tip-x “Intan masuk PTN”. Ketika aku mulai lelah, aku akan memutar lagu untuk memacu semangatku. Saat itu aku sangat suka mendengarkan lagu “Sang Juara” dan “Bumi ke Langit” milik Bondan Prakoso dan F2B. Menutup buku, tidur dengan posisi rileks, pasang headset, puter lagu, tutup mata dan fokus untuk mendengar setiap lirik yang mengalun selalu berhasil membuatku kembali semangat dan optimis.
Coretan penyemangat
            Semuanya berjalan sama, aku masih giat belajar dari jam 10 malam sampai jam 5 pagi, aku masih mencari informasi PTN dan PTS, aku masih sibuk dengan targetku. Sampai pada suatu hari ketika aku sedang tidur (mungkin sekitar jam 8 pagi) Kakak membangunkanku dengan kata-kata yang menyakitkan “Dek, tidur aja! Gimana kamu mau masuk PTN! Udah mending kamu kuliah di Cirebon aja, atau nikah aja sekalian! Dari pada selalu bikin susah!” Ah, damn! damn! Betapa kacau perasaanku saat itu.
Jiwaku mulai terusik ketika harus menghadapi gossip para tetangga meskipun aku selalu mengurung diri di rumah. Ditambah pengakuan Ayah dan Ibu mengenai kondisiku yang sebenarnya. Mau bagaimana lagi? Setiap ada tamu, bukankah para orang tua selalu membanggakan anaknya? Aku sedih setiap mendengar pengakuan Ayah dan Ibu yang meskipun selalu jujur dalam mengakui kondisiku apa adanya pada mereka, tapi tetap selalu ada kebencian tersendiri dalam diriku. Aku, iya aku yang dulu selalu dibanggakan kini bernasib mengenaskan.
            Aku semakin sering menangis ketika Ibu selalu marah padaku. Terutama ketika aku bertanya mengenai universitas. Ibu jelas mendukungku, Ibu membebaskan aku untuk memilih universitas manapun, dimanapun  itu. Ibu berjanji akan menyediakan dana sebesar apapun itu. Tapi bukan dukungan seperti itu yang aku mau. Aku sangat butuh pemikiran Ibu untuk membantuku dalam memilih universitas mana yang sebaiknya aku pilih. Bukankah aku juga perlu pemikiran Ibu untuk melihat mana yang lebih baik? Bukan hanya menyerahkan semuanya kepadaku dan siap atas apa yang akan aku dapatkan nanti :’(
            Ceritanya sangat panjang dan rumit sampai pada keputusan Ibu yang menyarankan agar aku mencoba Ujian Mandiri di Universitas Pendidikan Indonesia (UM-UPI) dengan pertimbangan lokasinya yang berada di Bandung cukup dekat dan mudah diakses dengan transportasi umum (bis, kereta dan travel) dari Cirebon. Akhirnya, tanggal 9 Juli 2014 aku mendaftarkan diri sebagai peserta UM-UPI dengan pilihan Pendidikan Akuntansi dan Pendidikan Sejarah via online dan mendapat no bayar 02736. Iya, kali ini aku memang memutuskan untuk membanting setir mengambil IPS, meskipun sedikit berat karena aku harus melupakan mimpiku untuk masuk Pendidikan Matematika, harus melupakan mauku untuk kuliah di Yogyakarta dan harus aku akui bahwa aku sedikit takut karena mengambil bidang yang bukan bidangku. Dibandingkan dengan anak SMA dengan jurusan IPS, berapakah pengetahuan IPS yang baru aku pelajari selama kurang lebih 3 bulan?
Tanggal 10 Juli 2014 jam 10 pagi aku pergi ke bank BNI bersama Ayah untuk membayar biaya UM-UPI, ketika itu aku harus membayar Rp 300.000,00 dan mendapat pin TUE5XD untuk mendaftar via online kembali. Sekitar jam 2 siang aku dan Ayah pergi ke warnet Om Kasim untuk melakukan pendaftaran. Apa yang terjadi saat itu? Aku bertemu dengan sahabat Ayah disana, namanya Pak Kadmi, anaknya adalah temanku ketika SMP. Beliau berkata “Jadi, mengundurkan diri tah Nok? Yaudah kalau itu yang terbaik. Bapak sih percaya anaknya Ayah pinter, pasti bisa masuk UPI. Banyak berdoa aja”. Apa yang aku rasakan? Sejujurnya aku takut saat itu, bagaimana mungkin orang lain lebih optimis dibandingkan aku sendiri?
18 Juli 2013
            Jam 02:30 dini hari aku, Ibu dan Wawak Hato tiba di terminal Cicaheum, Bandung. Kami berangkat dari Cirebon naik bus Good Will pada pukul 22:30 WIB. Karena saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, kami memutuskan untuk sahur terlebih dahulu disalah satu warteg yang berada di terminal, ini pertama kalinya aku sahur di Bandung. Setelah itu, kami harus menunggu angkot cicaheum-lendeng penuh penumpang (sekitar 2,5 jam) untuk pergi ke Universitas Islam Bandung (UNISBA). Iya, aku memutuskan untuk ikut ujian di UNISBA sebagai cadangan seandainya aku gagal masuk UPI. Aku mendengar bahwa Ilmu Komunikasi UNISBA terbilang sangat bagus dan merupakan jurusan terbaik di UNISBA sendiri. Diluar keinginanku untuk menjadi seorang pendidik, aku juga sangat ingin menjadi jurnalis atau presenter.
            Sampai di Taman Sari, kami memutuskan untuk mencari kost untuk 4 hari. Aku cukup bersyukur dapat menemukan kost yang sangat dekat dengan UNISBA dengan cepat. Sebuah kost kusus untuk pria sebenarnya yang terdiri dari 4 lantai dengan desain yang kurang bagus. Tangganya saja sangat kecil dan terlalu jauh dari kata sempurna, bahkan sinyal hp sulit aku dapatkan disana. Di kost tersebut aku dan Ibu menyewa sebuah kamar kecil yang berada dilantai dua, sudah tersedia tempat tidur, bantal dan selimut dengan harga Rp 150.000,00 untuk 4 hari.
            Sekitar jam 8 pagi setelah mandi dan sebagainya, aku, Ibu dan Wawak Hato berjalan menuju Direktorat UNISBA untuk mendaftarkan aku sebagai perserta ujian. Aku mengambil 3 pilihan yaitu Komunikasi, Akuntansi dan Manajemen (lagi-lagi aku memberanikan diri mengambil bidang IPS). Formulirnya seharga Rp 250.000,00 dan biaya psikotes Rp 150.000,00. Setelah mendaftarkan diri, kami langsung mencari tempat ujian. Ujian psikotes berada dilantai 3 sedangkan ujian umum dilantai 4. Kondisi ruangannya sendiri cukup baik meskipun gedung UNISBA terlihat tua jika dilihat dari luar.
            Pengalaman yang lucu disana adalah ketika kami akan kembali ke kost yang telah kami sewa. Aku, Ibu maupun Wawak Hato bingung mencari jalan dan letak kost yang telah kami sewa tersebut. Kami berjalan dan berkeliling tanpa tahu arah. Konyol (>.<) kami sama sekali tidak tahu nama kostannya, bagaimana cara kami menemukannya? Hal itu membuat kami membutuhkan waktu selama 30 menit untuk menemukannya, hahaha :D Sekitar pukul 10 pagi Wawak Hato izin untuk pulang sendirian ke Cirebon karena tugasnya hanya mengantar sampai UNISBA saja. Sorenya, aku dan Ibu ngabuburit sampai ke Balubur Toserba (Baltos) yang letaknya persis didepan Direktorat Institut Teknologi Bandung (ITB). Aku baru tahu ternyata sangat banyak makanan yang enak ditawarkan dengan harga rata-rata Rp 5.000,00 perporsinya. Aku membeli batagor, tutut dan mie dingin. Luar biasa, makanan terasa sangat enak saat itu meskipun hatiku sedikit takut.
19 Juli 2013
            Sahur pertama di kost sewaan dengan hidangan nasi, mie dan bakso ikan. Aku menggunakan kesempatan ini untuk belajar dan tidur siang mengingat perjalanan kemarim membuatku sedikit lelah. Sorenya, aku dan Ibu kembali ngabuburit. Kali ini aku membeli risol, empek-empek dan jasuke yang harganya sama semua Rp 5.000,00 hahaha :D Minumnya, aku pilih mizone blewah untuk penambah energi :p
20 Juli 2013
            Sahur kedua di kost sewaan dengan hidangan nasi, hati-ampela goreng, bakso ikan dan balado telur. Jam 7 pagi aku pergi ke UNISBA diantar Ibu untuk ujian pertama. Ujian psikotes ada di ruang 304B yang berada dilantai 3, saat itu no ujianku sangat cantik yaitu 3131347. Aku hanya berharap hasilnya juga akan secantik no ujianku. Psikotes berlangsung lama, dari jam 8 pagi sampai jam 12:30 siang. Semua soal dijawab olehku dengan baik kecuali soal tentang balok yang diputar balik untuk menguji daya imajinasi gerak. Ibu menungguku didepan gedung, aku cukup terkejut karena Ibu sudah bersama Ibu-ibu lainnya. Salah satu dari mereka berkata bahwa anaknya gagal masuk ujian UNISBA di gelombang 1 dan 2 untuk masuk Komunikasi, padahal anaknya mengambil IPS ketika SMA. Lalu, bagaimana denganku yang ikut ujian gelombang 3 (gelombang terakhir) dengan pilihan komunikasi juga?
21 Juli 2013
            Sahur ketiga di kost, kali ini dengan lauk mie, bakso ikan dan hati-ampela goreng. Ibu tetap mengantarku untuk ujian hari kedua. Aku sempat bingung karena ternyata ruangannya dipindah. Ujian dimulai pukul 8 sampai pukul 12 siang. Setiap anak mendapat soal yang berbeda tergantung jurusan yang dipilihnya. Aku mendapat soal yang berisi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, Bahasa Inggris dan IPS. Aku cukup terkejut ketika teman sebelah kananku mendapat soal penuh yang berisi soal mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, Bahasa Inggris, IPS, IPA dan Kedokteran karena dia mengambil IPC dengan salah satu pilihan Kedokteran. Astaga! Terlalu ambisius.
            Aku mengerjakan soal dengan tenang. Semua soal dapat aku kerjakan dengan baik, umumnya soal  IPS sudah aku pelajari dari buku SBMPTN. Aku berhasil menyelesaikan semua soal selama satu jam. Aku memutuskan untuk kembali mengoreksi sebanyak 2 kali sampai jam menunjukkan tepat pukul 9:30 pagi. Karena merasa sangat puas, aku menyerahkan soal yang telah aku kerjakan ke meja pengawas yang berada didepan. Saat itu pengawas berkata “Sudah selesai? Mau diperiksa kembali atau tidak? Masih banyak waktu sampai jam 12 siang” dan saat itu aku berkata dengan penuh percaya diri “Terimakasih, Pak. Insya Allah saya sudah yakin akan jawaban saya 98 %. Assalamu'alaikum” Aku mencium tangan Dosen tersebut sebelum meninggalkan ruang ujian, sekilas aku melihat Dosen itu mengambil soal yang telah aku kerjakan dan memeriksanya langsung (sepertinya dikoreksi, benar atau tidaknya hanya Allah yang tau hehe).
            Siangnya aku dan Ibu jalan-jalan kearah yang berbeda. Ternyata Universitas Pasundan (UNPAS) ada didekat UNISBA. Kampusnya memang terlihat lebih bagus dari UNISBA. Jam 1 siang aku dan Ibu pergi naik angkot biru untuk turun didepan Baltos dan lanjut naik angkot jurusan ledeng menuju Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Uum temanku ketika SMA yang kebetulan kuliah di UPI telah menungguku digerbang dua UPI. Aku sengaja meminta tolong untuk menginap di kostan Uum yang berada di Cilimus selama aku ujian di UPI. Setelah bertemu dengan Uum, Ibu pulang ke Cirebon sendiri. Kosan Uum sendiri terbilang jauh saat itu, aku cukup bingung menghafal jalannya. Disana, sudah ada Dewi (saudara Uum) yang juga peserta UM-UPI. Aku bersyukur karena aku dan Dewi cepat akrab satu sama lain. Hari itu, aku buka puasa di Limamu, food court yang berada di Geger Kalong (Gerlong) bersama Uum dan Dewi.

Bersambung....  

0 comment:

Posting Komentar